Ketika melihat namanya di notif, ku selalu teringat akan mimpi di malam tiga tahun lalu. Notif di facebook, karena kami hanya berteman di facebook. Kami memang tak saling mengenal, tapi ku yakin kami sama-sama tahu karena ketika SMA kami sekolah di yayasan yang sama. Malam tiga tahun lalu, kalau tidak salah tanggal 19 Juni. Aku bermimpi tentangnya, kami bak sepasang kekasih. Mimpi itu begitu indah (keindahannya yang membuat mimpi itu masih melekat erat di ingatan si gadis pelupa ini). Ketika ku terbangun, hanya ada satu pertanyaan menghantui pikiran "Mengapa lelaki itu?" Wajahnya memang tak asing tetapi kami tak saling mengenal. Dan kini dia hadir seakan sengaja mengingatkan ku akan mimpi tiga tahun lalu itu. Namanya selalu muncul di beranda lengkap dengan status juga foto, nyatanya bukan hanya beranda namanya pun turut menghiasi notifikasi karena dia selalu menyukai postinganku. Ku tak tahu darimana itu berawal, yang ku tahu hal itu baru terjadi akhir-akhir ini. Sempat untuk menceritakan mimpi itu kepadanya, tetapi ku masih tak berani. Ku tak sanggup untuk membayangkan respon yang akan ia berikan, hingga menerka-nerka jawaban yang akan ku terima seperti "oh", "ko bisa ya", atau yang lain. Tampaknya hingga kini ku masih harus tetap merahasiakannya entah sampai kapan. Mungkin ketika mimpi itu sudah tak lagi menjadi mimpi.
Chapter 1 “The Tuesday Night Club” ‘Unsolved mysteries.’ Miss Marple wore a black brocade dress, very much pinched in round the waist. Mechlin lace was arrenged in a cascade down the front of the bodice. She was knitting something white and soft and fleecy. Her faded blue eyes, benignant and kindly, surveyed her nephew and her nephew’s guests with gentle pleasure. They rested first on Raymond himself, self-consciously debonair, then on Joyce Lempriere, the artist, with her close-cropped black head and queer hazel-green eyes, then on that well-groomed man of the world, Sir Henry Clithering. There were two other people in the room, Dr Pender, the elderly clergyman of the paris, and Mr Petherick, thesolicitor, a dried-up little man with eyeglasses which he looked over and not through. They formed a Club named The Tuesday Night Club. It is to meet every week, and each number in turn has to propound a problem. They have to unravel unsolved mystery. The facts are very ...
Komentar
Posting Komentar